Bom dan Pariwisata TORAJA

Dengan peristiwa peledak bom Kuningan di Hotel Ritz-Charlton dan JW Marriot, perhatian seluruh rakyat Indonesia, bahkan Internasional tertuju pada besarnya korban dari aksi teroris yang biadap dan tak berperikemanusiaan yang sangat terbalik dari apa yang mereka (para teroris) perjuangan. Sirnalah impian Indonesia, khususnya apa yang diimpikan dan digalakkan oleh Departemen Pariwisata "Visit Indonesia Year' 2009). Banyak yang meradang , adapula yang merana. Bukan hanya pengusaha wisata bahkan seluruh sendi-sendi perekonomian terganggu. Salah satu koran nasional melansir bahwa kunjungan wisata sempat turun pada titik dibawah 40%.

Bagaimana dengan Pariwisata Toraja.
Ada komentar teman bahwa Pariwisata Toraja tanpa adanya teroris pun sudah mati suri. Ditambah dengan adanya kejadian aksi bom kuningan dan bom sebelumnya telah menambah pertimbangan tersendiri bagi wisatawan untuk menginjakkan kaki di Indonesia termasuk di Toraja. Tanpa mengabaikan peristiwa bom Kuningan ini, sekiranya kita berharap dapat mencari pilihan lain selain hanya menyalahkan keadaan. Menyambung komentar saya beberapa waktu yang lalu, sebaiknya kita terutama Pemda saatnya memikirkan kembali dan memutar otak dalam menggairahkan pariwisata yang pernah melegenda di bumi Tana Tora yang kita cintai.
Ada beberapa pemikiran saya menambah pemikiran di tulisan saya sebelumnya di forum ini dan saya tidak akan mengulanginya lagi, tentunya terkait dengan sektor andalan Kabupaten Tana Toraja, yaitu membuatjaringan baru yang tidak hanya mengandalkan jaringan yang melewati jalur Surabaya-Jakarta-Makassar. Sebaiknya mengembangkan jalur Bali-Toraja langsung, bahkan Thailand-Toraja, Singapura-Toraja atau simpul-simpul jalur padat wisatawan lainnya. Hal ini dmaksudkan agar tidak terganggu dengan isu-isu di tempat lainnya. Pertanyaannya apa bisa?. Jawaban saya, kenapa tidak? Ini adalah investasi jangka panjang Pemda. Sebuah kepercayaan dalam bermitra tidak akan diragukan jika diupayakan menarik investor penerbangan-wisata yang besar ke Toraja. Jika memang perlu, Pemda dapat menyewa jasa penerbangan dengan beberapa ketentuan tertentu (baca tulisan saya sebelumnya). Beberapa teman saya (mancanegara-lokal) ketika saya ajak berkunjung ke Toraja, mereka mengatakan bahwa mereka tertarik berkunjung ke Toraja (berwisata) namun akses darat yang memakan waktu yang lama (karena memang sekarang akses udara sangat terbatas). Inilah pemikiran awal saya tentang kenapa kita sebaiknya tidak tergantung pada simpul-simpul yang ada. Ambil contoh Wakatobi, sampai kapan akan bisa ramai jika hanya mengandalkan akses lewat Makassar bahkan Kendari sekalipun kalau tidak mbekerjasama dengan investor besar dalam membuat akses langsung Bali? ini pertanyaan bagi kita semua. Semoga pemikiran saya ini dapat menginspirasi Pemda Toraja (mungkin). Semoga

Thanks
By Yunus P. Paulangan
ypaulangan@yahoo.com