Budaya Nenek Moyang

Barangkali tidak ada budaya unik di daerah manapun yang diciptakan oleh masyarakat setempat dalam kurun waktu yang kasat mata. Maksudnya, setiap kebudayaan daerah sudah ada sebelum menjadi obyek wisata dewasa ini. Kebudayaan tersebut diciptakan oleh nenek moyang kita kemudian diwariskan dan dilestarikan sampai saat ini.

Demikian pula kebudayaan yang bertebaran di Tana Toraja (Tana Toraja dan Toraja Utara). Salah satu budaya unik di Toraja adalah Ma'nene'(demikian sebutan di kecamatan Rindingallo). Ritual ini merupakan budaya warisan nenek moyang yang masih terpelihara sampai saat ini, setidak-tidaknya di Kecamatan Rindingallo dan sekitarnya.

Sebenarnya budaya ini sudah di"Kristen"kan. Tetapi masyarakat yang melaksanakannya masih seringkali terbawa suasana ritual aslinya, maka gerjea seringkali terjebak dalam memberikan advice. Sebagai contoh, apabila kuburan (liang batu) masih dalam keadaan terbuka (dibuka), masyarakat biasanya datang membersihkan kuburan atau memperbaiki kain pembungkus mayat yang sudah rusak. Tetapi di samping itu, beberapa orang masih sering memberikan "sesuatu" seperti uang, kain, tembakau untuk dipakai di"sana". Pada saat memberikan sesuatu, orang-orang berbicara sebagaimana layaknya memberikan benda kepada orang yang masih hidup. "Kain ini dari cucumu yang sedang merantau, bermurah hatilah kepada mereka, datanglah memberikan kesehatan agar tahun depan bisa membelikan sarung yang baru". Kurang lebih begitu yang diucapkan segelintir orang (tidak bisa dilarang) di depan kuburan.

Ritual ma'nene' yang dilaksanakan di wilayah Lembang Lempo Poton awal bulan september 2009, ditutup dengan acara kekristenan, berdoa bersama (bukan di depan kubur). Menurut kebiasaan para penganut agama adat, kegiatan penutup harus dilakukan di tempat khusus yang disebut Rante. Banyak masyarakat menginginkan upacara penutupan di tempat tersebut. Tetapi sebagian tidak bersedia dengan alasan kita melakukan ritual secara Kristen. Akhirnya kelompok menjadi dua. Gereja tidak biasa mengambil keputusan. Ada kelompok yang mengadakan upacara tanpa dihadiri pendeta dan majelis tetapi tetap berdoa dengan cara Kristen. Saya salah satunya.

Menurut pendapat saya, seharusnya gereja bisa menetapkan bahwa upacara adat yang dilakukan secara kristen, tidak boleh, mengikuti kebiasaan nenek moyang pada masa lampau ketika agama suku masih dianut sebagian besar penduduk.