Toraja - dari masa ke masa
toraja, dalam perdagangan kopi dan manusia
Sebelum kedatangan Belanda pada awal abad 20, toraja menjadi pemasok kopi yang menjadi komoditi utama di nusantara, saat itu. Pasar-pasar toraja adalah tempat yang terbaik untuk pedagang-pedagang pengumpul kopi yang datang ke toraja melalui jalur Sidenreng dan jalur Luwu. Dalam catatan-catatan kolonial kemudian disebutkan bahwa sebagian dari para pedagang tersebut keturunan arab. Mereka membawa kain dan keperluan lain ke toraja untuk dijual, lalu membawa pulang kopi-kopi terbaik dari pegunungan toraja.
Adapun catatan kelam dari zaman tersebut adalah perdagangan manusia untuk dijadikan pekerja atau pengangkut barang di bagian lain di nusantara. Persaingan daerah-daerah penghasil kopi, sistem puang-kaunan, hingga perjudian, yang marak beberapa tahun sebelum kedatangan Belanda menyebabkan banyak orang-orang dari tana toraja saat itu yang akhirnya terjual ke daerah lain.
Toraja dalam pendudukan Belanda
Tentara Belanda pertama kali datang ke toraja pada tahun 1906. Sekalipun perlawanan Pong Tiku dan kawan-kawan sangat heroik, Belanda kemudian menang melalui tipu muslihat yang berakhir dengan eksekusi Pong Tiku di tepi sungai di Singki', rantepao pada tahun 1907. Sejak itu, Belanda memulai pengaturan pemerintahan, mengembangkan kota Rantepao dan mendirikan kota Makale. Belanda (melalui zending) juga mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak toraja, dengan mendatangkan guru dari Minahasa, Timor, dan Ternate. Sebagian dari guru-guru minahasa inilah yang memperkenalkan toraja pada kesenian "musik bambu" yang sampai sekarang digemari di tana toraja.
Yang paling berpengaruh dari kehadiran dan kekuasaan Belanda di tana toraja adalah aktivitas pelayanan oleh missionaris-missionaris zending Belanda. Sekalipun bukan dari pemerintahan Belanda, namun melalui keitraan dan relasi dengan pemerintah kolonial, para missionaris ini dengan sangat baik menaburkan benih-benih Injil ke dalam hati anak-anak toraja. Dalam satu hal ini toraja benar-benar mengucap syukur atas kehadiran Belanda.
Pada tahun 1926, di daerah orang toraja dibentuk onder Afdeeling Makale & Rantepao yang secara administratif berada di bawah satuan wilayah yang lebih luas yang disebut swaraja Luwu.
Pendudukan Jepang hingga masa revolusi dan reformasi Indonesia
Ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942, giliran serdadu Jepang yang datang dan mengendalikan kekuasaan. Namun kekuasaan Jepang tidak berlangsung lama, karena pada 1945 Jepang menyerah kepada sekutu dan disusul dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di tanah Jawa.
Oleh pemerintahan Indonesia mula-mula, Tana Toraja menjadi daerah swaraja yang terpisah dari Luwu menurut besluit Lanschap Nomor 105 tanggal 8 Oktober 1946.

logo kabupaten tana toraja
Kemudian pada 1957, dengan UU Darurat nomor 3 tahun 1957, menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Tana Toraja. Keputusan darurat ini ternyata berlangsung lama dan baru berubah lagi setelah reformasi ketika melalui UU Nomor 22 Tahun 1999, namanya menjadi Kabupaten Tana Toraja.
Selanjutnya . . .
Dengan sejumlah harapan dan keyakinan, dan mungkin juga karena beberapa ketidakpuasan terhadap keadaan saat ini, ternyata ada juga yang menginginkan wilayah toraja dibagi lagi menjadi dua bagian secara administrasi. Pemekaran, demikian yang disuarakan oleh sekelompok masyarakat. Namun sebagian lagi memilih tetap sebagai satu toraja, satu tana toraja. Bagaimana akhirnya toraja menyelesaikan perbedaan pendapat ini, biarlah waktu yang memberikan jawabannya.
Catatan: Artikel ini masih dalam tahap rintisan dan terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan atau tambahan informasi yang kami peroleh. Apabila Anda mempunyai catatan-catatan jelas mengenai sejarah bangunan-bangunan yang disebutkan di sini, mohon dapat diinformasikan kepada kami melalui services@torajaland.net untuk makin memperkaya pengetahuan kita mengenai Toraja di masa lalu.
- Login to post comments









